Senin, 10 November 2014

Pariaman and Its Tourism




Negara : Indonesia
Provinsi : West Sumatera
Kota : Pariaman
Suku Etnis : Minangkabau (89%)
Batak (4%)
Jawa (4%)
Lain-lain (3%)
Agama : Islam (99.4%)
Kristen (0.6%)
Bahasa : Minangkabau, Indonesia
Time Zone : WIB (UTC+7)
Website : www.pariamankota.go.id



GEOGRAFIS KOTA PARIAMAN

Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang landai terletak di pantai barat Sumatera dengan ketinggian antara 2 sampai dengan 35 meter diatas permukaan laut dengan luas daratan 73,36 km² dengan panjang pantai ± 12,7 km serta luas perairan laut 282,69 km² dengan 6 buah pulau-pulau kecil diantaranya Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak.
Kota Pariaman merupakan daerah yang beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh angin barat dan memiliki bulan kering yang sangat pendek. Curah hujan pertahun mencapai angka sekitar 4.055 mm (2006) dengan lama hari hujan 198 hari. Suhu rata-rata 25,34 °C dengan kelembaban udara rata-rata 85,25 dan kecepatan angin rata-rata 1,80 km/jam.
.
Utara
kecamatan V Koto Kampung Dalam , kabupaten Padang Pariaman
Selatan
kecamatan Nan Sabaris, kabupaten Padang Pariaman
Barat
Samudera Hindia
Timur
kecamatan VII Koto Sungai Sarik, kabupaten Padang Pariaman


SEJARAH KOTA PARIAMAN

Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia.
Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus. Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.
Sekitar tahun 1527 datang bangsa Perancis dibawah komando seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Dia mengirim dua buah kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua bersaudara ini tidak banyak ditemukan.
Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, dengan dua buah kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen, yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan menyusul setelahnya kapal-kapal Belanda yang lain. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596, dalam perjalanannya juga sempat melewati perairan Pariaman.
Pada tahun 1686, orang Pariaman ("Pryaman'" seperti yang tertulis dalam catatan W. Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris. Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan (entreport) Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa, pelabuhan itu semakin sepi karena salah satu penyebabnya dengan dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.
Secara historis, sebagai pusat pengembangan ajaran Islam yang tertua di pantai Barat Sumatera, masyarakat Pariaman sangat agamis, yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang memegang teguh ajaran Islam dan rasa tanggung jawab untuk mensyiarkan agama.
•Sebagai pusat penyebaran Islam di Minangkabau, Pariaman memiliki ulama terkenal seperti Syekh Burhanuddin, yang salah seorang gurunya bernama Khatib Sangko bermakam di Pulau Anso Duo, yang saat ini dikenal dengan "Kuburan Panjang". Beliau adalah pendiri perguruan tinggi Islam pertama di kawasan pantai barat Sumatera. Dari pengikut-pengikutnya, ajaran Islam berkembang pesat ke seluruh wilayah Minangkabau dan daerah tetangga. Bahkan, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, pelaksanaan pendidikan bernuansa agama Islam telah berkembang sehingga menjadikan kota ini sebagai kota tempat memperdalam ilmu agama bagi kebanyakan pemuda yang ada di wilayah Sumatera.
•Dengan lika liku perjuangan yang amat panjang menuju kota yang definitif, Kota Pariaman akhirnya resmi terbentuk sebagai Kota Otonom pada tanggal 2 Juli 2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Pariaman di Sumatera Barat.
•Sebelumnya, Kota Pariaman berstatus Kota Administratif (Kotif), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1986 dan menjadi bagian dari Kabupaten Padangpariaman se-kaligus Ibukota Kabupaten. Kotif Pariaman diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam dengan Walikota Administratif pertamanya Drs. Adlis Legan. Perjuangan menuju kota administratif inipun cukup berat. Namun berkat kegigihan dan upaya Bupati Padangpariaman saat itu, H. Anas Malik, Kotif Pariaman pun dapat diwujudkan.

Walikota dan Wakil Walikota Pariaman
(Sejak Tahun 1987 s/d sekarang)
•Drs. Martias Mahyuddin, M.Sc (1993 - 1998).
•Drs. Firdaus Amin (1998 - 2003).
•Drs. Adlis Legan (1987 - 1993).
•Drs. Sultani Wirman (Agustus s/d Oktober 2003).
•H. Nasri Nasar, SH dan Ir. Mahyuddin (2003 - 2008).
•Ir. Mahyuddin (22 Februari 2007 s/d 9 Oktober 2008).
•Drs. Mukhlis Rahman, MM dan Helmi Darlis, SH, S.pN (2008 - 2013).
•Drs. Mukhlis Rahman, MM dan Dr. Genius Umar, S.Sos, M.Si (2013-2018)
•Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Pariaman, Drs. H. Mukhlis Rahman, MM dan Helmi Darlis, SH, S.pN merupakan pasangan yang pertama dipilih langsung oleh masyarakat melalui Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) tanggal 28 Juli 2008. Keduanya diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pasangan ini resmi dilantik oleh Gubernur Sumatera Barat H. Gamawan Fauzi atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 oktober 2008, yang berlangsung dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Pariaman.


TRANSPORTASI KOTA

Kereta Api Sibinuang Kereta Api Sibinuang merupakan KA kelas ekonomi yang melayani koridor Padang - Pariaman. KA ini berada di bawah kendali Divisi Regional II Sumatera Barat. KA Sibinuang diberangkatkan dari Stasiun Padang setiap hari pada jam 06.00 WIB dan 13.30 WIB, sedangkan dari Stasiun Pariaman KA ini diberangkatkan pada pukul 08.30 dan 16.30. Tarif KA ini adalah flat Rp. 2.500,00 untuk jarak dekat maupun jauh.
Tranex atau Bus
Tranex atau Bus merupakan transportasi biasa yang digunakan masyarakat kota. Tranex ini melayani rute Padang – Pariaman, Pariaman-Padang. Dan juga banyak rute lainnya yang memudahkan masyarakat untuk bepergian ke daerah-daerah di Sumatera Barat. Tarif yang diberikan juga sesuai dengan jarak dan juga kenyamanan pelanggan dalam memilih tranex. Ada yang menggunakan AC atau Non AC. Tergantung kenyamanan dari pelanggan dalam memilih tranex tersebut.
Pantai Gandoriah terletak di puat kota Pariaman yang khas dengan pasir putih dan pantainya yang landai. Dengan deburan ombak yang tidak terlalu tinggi membuat pantai ini bisa digunakan untuk berenang.Di pantai ini juga tumbuh pohon pinus yang membuat tempat ini sangat bagus serta pemandangannya yang cantik. Pantai ini selalu dikunjungi masyarakat lokal maupun luar daerah terutama pada moment Tabuik dan hari raya. Di pantai ini juga banyak beragam wisata kuliner yang dapat kita temukan dipinggir pantai. Seperti, Nasi Sek, Nasi Gulai Kapalo Ikan, Goreng Udang, Sala Lauak, dan lain sebagainya. Di depan pantai gandoriah, kita bisa melihat Pulau Kasiak, Pulau Pandan, dan Pulau Angso Duo yang dapat kita seberangi dengan menggunakan speedboat.
Pulau Angso Duo
Pulau Angso Duo berda diseberang Pantai Gandoriah. Kita bisa menikmati keindahan alam yang dimiliki oleh Kota Pariaman ini. Dengan khas pasirnya yang putih dan airnya yang biru, banyak sekali pengunjung yang tidak bosan mengunjungi Pulau ini. Baik pengunjung lokal maupun mancanegara. Untuk menuju Pulau, disediakan speedboat atau perahu kayu yang letaknya tepat didepan pantai gandoriah.

WISATA ALAM


Pantai Gandoriah
Pantai Cermin
Pnatai Cermin terletak sekitar 1,5 km dari selatan kota Pariaman. Secara fisik, pantai ini cukup landai dan juga banyak pohon pinus dan pohon kelapa yang tumbuh disekitar pantai. Inilah ciri khas pantai pcermin yang membuat tempat ini sangat cantik untuk dikunjungi. Keindahan alam di tempat ini juga sangat menarik hati pengunjung karena pantai ini dijaga kebersihan dan keamanannya. Pasirnya yang berwarna kuning gading dan tidak berlumpur. Tempat ini juga banyak ditemukan restoran khas Minang yang menyediakan beragam menu ala Minang seperti Gulai Kepala Ikan dan goreng udang serta menu hidangan lainnya yang dapat dinikmati oleh pelnaggan. Pantai Kata
Nama Kata diambil dari dua tempat yang berbeda, yaitu Karan Aur dan Taluk. Pantai ini merupakan slah satu pantai yang indah di Pariaman yang juga khas dengan pasirnya yang putih dan tempatnya yang sejuk yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Pengunjung bisa menggunakan tradisional transportasi seperti angkot dan juga bisa menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju pantai kata.
Sebagai slah satu kegiatan tradisi Kota Pariaman, Tabuik juga merupakan slah satu kegiatan nasional yang diadakan setiap tahun oleh anak muda daerah pada bulan Muharram Tahun Hijriah. Banyak orang-orang yang mengunjungi pariaman untuk menikmati pesta tabuik ini, baik penduduk lokal maupun internasional. Penduduk sangat antusias sekali dengan pesta tabuik ini. Selama sepuluh hari dalam pembuatan tabuik sampai puncak kegiatan tabuik pada tanggal 10 Muharram. Banyak sekali kreatifitas anak daerah yang dipentaskan seperti indang, gamaik, qasidah, dabuih, randai, silek.

WISATA BUDAYA


Tabuik
Adapun beberapa prosesi yang diadakan selama sepuluh hari dalam pembuatan tabuik yaitu :
1. Membuat Daraga
2. Mengambil Tanah
3. Memotong Batang Pisang
4. Maatam
5. Mamanjek Panja
6. Mamakai Saroban
7. Manaiakan Tingkek
8. Hoyak Tabuik
9. Melempar tabuik ke laut

Guci Badano

WISATA SEJARAH

Terletak di Desa Sungai Rotan. Air yang ada dalam Guci ini dipercaya oleh masyarakat sebagai obat. Air ini biasanya digunakan oleh masyarakat dalam Upacara Turun Mandi.
Meriam Tua
Rumah Panggung di Jl. SudirmanRumah tua tradisional Pariaman yang juga sering disebut rumah gadang memiliki tiang sebanyak 20 buah. Oleh sebab itu rumah ini disebut juga rumah tonggak 20. Topologi rumah gadang ini adalah rumah panggung atau kolong dan memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini disesuaikan dengan iklim dan kondisi daerah serta kebiasaan yang turun temurun. Suasana di dalam rumah ini sangat sejuk dan segar karena seluruhnya terbuat dari kayu dan memiliki jendela serta ventilasi ornamental. Saat ini tidak banyak lagi rumah gadang ini dijumpai. Karena pengaruh budaya dan zaman, tidak banyak lagi masyarakat yang membangun rumah seperti rumah gadang, berhubung pemeliharaan dan perawatannya yang cukup tinggi.
Rumah Panggung Lama Pariaman
Bukti peninggalan sejarah terdapat di Jalan Diponegoro Desa Kp. Pondok dekat pusat Kota Pariaman yakni sebuah meriam kuno. Meriam ini terletak di halaman rumah gadang milik keluarga. Meriam ini selalu dibersihkan dan dibunyikan sebagai pertanda mulainya berpuasa atau hari-hari penting lainnya.
Monumen Angkatan laut
Pariaman pada kemerdekaan terkenal karena merupakan basis angkatan laut yang kuat yang membuat pasukan Belanda sulit memasuki wilayah Pariaman.Di lokasi yang disebut dengan benteng sekarang, terletak di pusat Kota Pariaman, tepatnya di Jalan Tugu Perjuangan 45, terletak sebuah bekas benteng perlawanan rakyat Pariaman dalam melawan agresi Belanda. Di sini gugur sebanyak 36 anggota ALRI dan 4 orang selamat meloloskan diri. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Januari 1949. ALRI saat itu dipimpin oleh Letnan I Wagimin, mantan anggota Kaygun.
Mesjid Pinago
Mesjid Pinago yang dibangun tahun 1894 ini terletak di Kuraitaji. Satu hal yang unik di dalam mesjid ini adalah terdapat sebuah batu yang disebut dengan batu sandi macu. Benar atau tidak orang bilang bahwa batu itu membesar sesuai dengan umurnya. Tidak diketahui apa fungsi batu itu. Tetapi masyarakat setempat tetap menjaganya.
Mesjid Raya Pariaman
Mesjid ini mulai dibangun pada tanggal 1 Muharram 1300 H (1879 M) yang diprakarsai oleh Syekh Muhammad Jamil, seorang ulama yang termasyhur pada masa itu. Mesjid ini merupakan mesjid batu pertama di Pariaman dan dibangun dengan kekuasaan dan kekuatan anak nagari pasar Pariaman sendiri. Mesjid ini berdiri berkat kepemimpinan S.M. Jamil dalam membina persatuan dan kesepakatan anak nagari pada masa itu. Dari mesjid ini syiarnya agama Islam ke seluruh penjuru negeri.

WISATA KULINER


Setiap daerah tentunya memiliki daya tarik tersendiri. Memiliki budaya yang berbeda. Bahasa, dialeg dan pandangan hidup yang tak sama. Namun keanekaragaman inilah yang membuat kita merasa saling membutuhkan. Tak luput pula kekhasan kuliner yang ada pada tiap-tiap daerah. Pariaman tampil dengan sala lauaknya. Sudah tidak asing lagi bagi kita makanan khas orang Pariaman ini. Sala merupakan bahasa Minang yang berarti goreng. Sedang lauak berarti ikan. Apa sala lauak itu sama dengan goreng ikan? Eits, hati-hati! Tentu bukan, karena yang akan diberikan bukan sala lauak lagi tetapi ikan yang digoreng. Lalu sala lauak itu seperti apa?
Sala lauak merupakan gorengan sebesar bola pimpong berwarna kuning kunyit. Tersusun atas tepung beras, cabe, kunyit, bawang-bawangan, garam, serta ikan asin. Rasa ikan asin yang terdapat dalam gumpalan tepung yang dibumbui inilah yang membuat 'sala' itu bernama Sala Lauak. Tak hanya sala lauak yang menjadi makanan khas Pariaman, tetapi masih banyak makanan lainnya. Seperti goreng kepiting, Nasi Sek, ketupat gulai paku, kacimuih, lamang sipuluik, onde-onde, lompong sagu, dan jenis makanan lainnya.
Makanan khas ini akan dengan sangat mudah kita temukan di Pariaman. Di sekitar Pantai Gandoriah saja, kita dapat menemui makanan-makanan ini. anda penasaran dengan sala lauak Rang Piaman? Yuk coba! (*)

WELCOME TO PARIAMAN!!

Sabtu, 01 November 2014

Pantai Gandoriah, Kebanggaan Masyarakat Pariaman

Rasanya tidak lengkap jika Anda bertandang ke Kota Pariaman belum singgah ke pantai yang satu ini. Pantai Gandoriah namanya, sebuah ruas pantai wisata dengan panorama pulau-pulau kecil di pusat Kota Pariaman. Perpaduan posisi yang strategis, panorama yang indah, dan konturnya yang landai, membuat pantai ini menjadi salah satu objek wisata pantai paling populer di sini.

Asal-usul nama Pantai Gandoriah memiliki kisah tersendiri. Gandoriah merupakan nama seorang gadis dalam cerita rakyat Minangkabau. Menurut Kabid Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kota Pariaman, Asnul Nazar, kisah ini sudah semakin jarang diketahui masyarakat, kecuali oleh kalangan sesepuh masyarakat. Kisah tersebut menceritakan perjalanan cinta seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga dengan Puti Gandoriah, yang tak lain adalah sepupunya.

Dikisahkan, Anggun Nan Tongga pergi berlayar untuk menemukan tiga mamaknya (paman) yang tidak kunjung pulang dari perantauan. Dalam perjalanan yang melewati banyak rintangan, Nan Tongga berhasil menemukan pamannya satu per satu. Karena pengkhianatan salah seorang teman yang lebih dahulu kembali ke kampung halamannya, Puti Gandoriah menyangka kekasihnya telah meninggal. 

Dalam kesedihannya, Puti Gandoriah memutuskan bersemedi di Gunung Ledang. Kisah ini pun berakhir tragis saat Nan Tongga dan Puti Gandoriah bertemu kembali tetapi harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua adalah saudara sepersusuan yang tidak boleh saling menikah.

Nan Tongga dalam cerita rakyat tersebut dikemudian hari dijadikan nama sebuah hotel di tepi Pantai Pariaman, yang merupakan hotel tertua di kota ini. Keberadaan hotel ini menjadi inspirasi nama pantai oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Padang Pariaman saat itu. 

Menurut Bapak Murad Masri, Kepala Dinas pariwisata periode 1983-1995, awalnya ada tiga opsi penamaan yaitu, Piaman Indah, Angso Duo, dan Gandoriah. Dari ketiga opsi tersebut, akhirnya nama Gandoriah yang dipilih dan diresmikan sebagai nama pantai ini pada masa pemerintahan Bupati Zainal Bakar (1990-1994).

Panorama laut memang menjadi salah satu keunggulan utama pantai ini. Di lepas pantai setidaknya terdapat gugusan 6 pulau kecil yang terlihat bagaikan menghias cakrawala. Keenam pulau itu adalah Pulau Kasiak, Pulau Angso, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong dan Pulau Bando. 

Selain dapat dinikmati sebagai bagian dari panorama lautnya, sebagian besar pulau ini dapat disinggahi dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 20 menit perjalanan.

Disamping menikmati keindahan panoramanya, pantai ini juga menyajikan berbagai aktivitas rekreasi laut yang bisa menjadi pilihan saat liburan. Diantaranya, renang, selancar, dan beraneka jenis olah raga pantai lainnya. Sayangnya, fasilitas-fasilitas rekreasi tersebut sebagian hanya tersedia pada saat akhir pekan dan musim liburan saja.

Keunggulan yang dimiliki Pantai Gandoriah juga didukung oleh aksesnya yang strategis. Posisinya yang berada di pusat kota, menjadikan akses transportasi umum seperti angkot dan bus antar kota tidak terlalu sulit kita temukan di sini. 

Selain itu, terdapat jalur kereta yang menghubungkan langsung pantai ini dengan Kota Padang. Bahkan, posisi stasiunnya pun tepat berada di depan gerbangnya. Tidak heran jika PT. KAI pun kemudian menghadirkan rute perjalanan kereta wisata jurusan Padang-Pariaman yang beroperasi setiap akhir pekan. 


Menurut catatan dinas pariwisata setempat, intensitas kunjungan wisatawan ke pantai ini relatif tinggi, khususnya pada event-event budaya seperti Festival Tabuik. 

Setiap tahunnya, pantai ini memang menjadi lokasi penyelenggaraan acara puncak tradisi tabuik, yaitu saat pembuangan tabuik ke laut. Karenanya, jika saat momentum tersebut tiba, pantai ini berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru Sumatera Barat.

Pariaman Kota Tabuik


Kota Pariaman berada di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tepatnya di pesisir pantai Laut Hindia, sebelah utara kota Padang. Pariaman adalah sebuah nama yang berarti “daerah yang aman”, memiliki luas wilayah 73,36 kilometer persegi. Di daerah ini ada suatu pesta adat yang disebut dengan tabuik, menyuguhkan atraksi budaya bernuansa Islami yang telah melegenda.

Festival Tabuik adalah perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharam) yaitu mengenang  kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad Saw  yaitu Saidina Hassan bin Ali yang wafat diracun serta Saidina Husein bin Ali yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi). Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, tubuh Imam Husain yang sudah wafat dirusak dengan tidak wajar. Kepala Imam Husein dipenggal oleh tentara Muawiyah. Kematian Imam Husein diratapi oleh kaum Muslim terutama Muslim Syiah di Timur Tengah dengan cara menyakiti tubuh mereka sendiri. Tradisi mengenang kematian cucu Rasulullah tersebut menyebar ke sejumlah negara dengan cara yang berbeda-beda. Di Indonesia, selain di Pariaman, ritual mengenang peristiwa tersebut juga diadakan di Bengkulu. Dalam perayaan memperingati wafatnya Husein bin Ali, tabuik melambangkan janji Muawiyah untuk menyerahkan tongkat kekhalifahan kepada umat Islam setelah Imam Husain meninggal. Namun, janji itu ternyata dilanggar dan malah mengangkat Jazid yaitu anaknya sebagai putera mahkota.

Sebagian Muslim percaya jenazah Husain diusung ke langit menggunakan Bouraq dengan peti jenazah yang disebut Tabot. Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik. Awalnya Tabuik sebagai simbol ritual bagi pengikut Syi’ah untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh Imam Husein dan selama ritual itu para peserta berteriak “Hayya Husein, hayya Husein” atau yang berarti “Hidup Husein, hidup Husein”. Akan tetapi, di Pariaman teriakan tersebut telah berganti dimana para pengusung dan peserta Tabuik akan berteriak “Hoyak Hussein, hoyak Hussein” sambil menggoyang-goyangkan menara Tabuik yang berbentuk menara dan bersayap serta sebuah kepala manusia.

Festival Tabuik masuk kalender acara wisata Sumatra Barat dan kalender acara wisata nasional. Puluhan ribu orang dari pelosok Sumatra Barat dan perantau datang ke Pariaman hanya ingin melihat Festival Tabuik selama 14 hari. Upacara tabuik dapat dihadiri hingga sekitar 6.000 orang per hari dan 90.000 orang saat puncak acara.

Acara Tabuik di Pariaman dan Ta’ziyeh di Iran memiliki kesamaan ritual yaitu untuk memperingati kematian Imam Hussein.  Dalam perayaan ini masyarakat menyaksikan dua buah tabuik atau keranda setinggi 13 hingga 15 meter yang masing-masing diangkat oleh 20 lelaki. Mereka menggoyang-goyang, memutar-mutar, dan mengarak tabuik dari pusat kota menuju pantai. Lalu, pemain gendang tasa menepuk irama, mengiringi setiap liukan tabuik, dentamnya membangkitkan semangat. Di antara irama gendang terselip teriakan keras “Hoyak Hussein”.

Kata tabuik yang berasal dari bahasa Arab dapat mempunyai beberapa pengertian. Pertama, tabuik diartikan sebagai ‘keranda’atau ‘peti mati’. Pengertian yang lain mengatakan bahwa tabuik artinya adalah peti pusaka peninggalan Nabi Musa yang digunakan untuk menyimpan naskah perjanjian Bani Israel dengan Allah. Tabut pada mulanya sebuah peti kayu yang dilapisi dengan emas sebagai tempat penyimpanan manuskrip Taurat yang ditulis di atas lempengan batu.  Akan tetapi, Tabuik kali ini tidak lagi sebuah kotak peti kayu yang dilapisi oleh emas. Namun,  yang diarak oleh warga Pariaman adalah sebuah replika menara tinggi yang terbuat dari bambu, kayu, rotan, dan berbagai macam hiasan. Puncak menara adalah sebuah hiasan yang berbentuk payung besar, dan bukan hanya di puncak, di beberapa sisi menara hiasan berbentuk payung-payung kecil juga terpasang berjuntai. Tidak seperti menara lazimnya, bagian sisi-sisi bawah Tabuik terkembang dua buah sayap. Di antara sisi-sisi sayap itu, terpasang pula ornamen ekor dan sebuah kepala manusia sepertinya wajah wanita lengkap dengan kerudung. Bambu-bambu besar menjadi pondasi sekaligus tempat pegangan untuk mengusung Tabuik yang terlihat kokoh dan sangat berat. Butuh banyak pria untuk mengangkatnya dan butuh banyak kucuran keringat untuk mengoyaknya.

Tradisi Tabuik telah terpelihara sejak 1829 oleh warga Pariaman. Perayaan Tabuik diselenggarakan setiap 1 hingga 10 Muharam. Ada beberapa versi mengenai asal-usul perayaan tabuik di Pariaman. Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang Arab (Muslim Syiah) yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang. Sedangkan, versi lain berdasarkan catatan Snouck Hurgronje mengatakan bahwa tradisi Tabuik masuk ke Indonesia melalui dua gelombang. Gelombang pertama sekitar abad 14 M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari. Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh tentara Cipei/Sepoy dari India penganut Islam Syiah yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Pasukan  itu berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu ketika menguasai  Bengkulu dari tangan Belanda sesuai Traktat London, 1824.

Dalam sejarah Pariaman, Tabuik pertama kali diperkenalkan serdadu Tamil yang menjadi bagian pasukan Inggris pimpinan Thomas Stamfort Raffles. Saat itu Inggris menguasai Bengkulu tahun 1826. Pasukan Tamil yang kebayakan Muslim setiap tahun menggelar pesta Tabuik dimana di Bengkulu bernama "Tabot". Kegiatan ini kemudian diikuti pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Panian, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Meulauboh dan Singkil. Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Setelah perjanjian London 17 Maret 1829, Inggris harus meninggalkan Bengkulu dan menerima daerah jajahan Belanda di Singapura. Sebaliknya Belanda berhak atas daerah-daerah jajahan Inggris di Indonesia termasuk Bengkulu dan wilayah Sumatera lainnya. Serdadu Inggris harus meninggalkan Bengkulu, namun pasukan Tamil yang mayoritas Muslim memilih bertahan dan melarikan diri ke Pariaman, Sumatera Barat yang saat itu terkenal sebagai daerah pelabuhan yang ramai di pesisir barat pulau Sumatera. Karena pasukan Tamil mayoritas Muslim, mereka diterima masyarakat Pariaman yang memeluk Islam. Terjadilah pembauran sosial-budaya. Salah satu pembauran budaya ditunjukkan oleh Pesta Tabuik. Bahkan Tabuik akhirnya menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Pariaman. Di Pariaman, kemudian tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Adat. Namun, seiring dengan banyaknya wisatawan yang datang untuk menyaksikannya, tahun 1974 pengelolaan tabuik diambil alih oleh pemerintah daerah setempat dan dijadikan Tabuik Wisata.

Pembuatan Tabuik
Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Kedua tempat tersebut dipisahkan oleh aliran sungai yang membelah Kota Pariaman. Kelompok Tabuik Pasar terdiri dari gabungan 12 desa yang ada di kota Pariaman, sementara kelompok Tabuik Subarang terdari dari gabungan 14 desa lainnya. Dahulu, selama berlangsungnya pesta tabuik selalu diikuti dengan perkelahian antara warga dari daerah Pasar dan Subarang. Bahkan, ada beberapa pasangan suami-isteri yang berpisah dan masing-masing kembali ke daerah asalnya di Subarang dan Pasar. Setelah upacara tabuik berakhir, suami-istri tersebut kembali berkumpul dalam satu rumah. Walaupun korban terluka parah dalam perkelahian, namun ketika acara berakhir mereka bersatu kembali, sehingga suasana kembali tenang dan damai seperti semula.

Tabuik dibuat secara bersama-sama dan melibatkan ahli budaya dan sejarah, serta tokoh masyarakat. Masyarakat berkelompok dan saling bahu-membahu untuk membuat Tabuik dan mengaraknya. Pembuatan tabuik ini memakan biaya puluhan juta rupiah.

Tabuik dibuat oleh kedua tempat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas dan bawah yang tingginya dapat mencapai 15 meter. Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia berambut panjang.  Kuda itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas. Kuda tersebut adalah simbol Bouraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat dan digunakan saat Isra' Miraj Nabi Muhammad Saw. Buraq dipercaya membawa Imam Hussein ke langit.

Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar. Pada gapura itu ditempelkan motif ukiran khas Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan bungo salapan atau delapan bunga berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik. Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan menghoyak Tabuik yang dilakukan sekitar 100 orang dewasa.

Upacara Tabuik
Pesta Tabuik ini, dulu dikenal sebagai ritual tolak bala, yang diselenggarakan setiap tanggal 1-10 Muharram. Tabuik dilukiskan sebagai  "Bouraq", binatang berbentuk kuda bersayap, berbadan tegap, berkepala manusia seperti wanita cantik, yang dipercaya telah membawa arwah Hasan dan Husein ke surga. Dengan dua peti jenazah yang berumbul-umbul seperti payung mahkota, tabuik tersebut memiliki tinggi antara 10-15 meter. Puncak Pesta Tabuik adalah bertemunya Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua tabuik itu dihoyak dengan ditingkahi alat musik tambur dan gendang tasa. Petang hari kedua tabuik ini digotong menuju Pantai Gondoriah, dan menjelang matahari terbenam, kedua tabuik dibuang ke laut. Dikisahkan, setelah tabuik dibuang ke laut, saat itulah kendaraan bouraq membawa segala arak-arakan terbang ke surga.

Dalam acara pesta adat Tabuik yang lamanya sekitar 10 hari (1-10 Muharam), ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu berikut ini.
1)    pembuatan tabuik;
2)    tabuik naik pangkat yaitu menyatukan tiap-tiap bagian tabuik;
3)    maambiak tanah yaitu mengambil tanah yang dilakukan pada saat adzan Magrib. Pengambilan tanah tersebut mengandung makna simbolik bahwa manusia berasal dari tanah. Setelah diambil, tanah tadi diarak oleh ratusan orang dan akhirnya disimpan dalam daraga yang berukuran 3x3 meter, kemudian dibalut dengan kain putih, lalu diletakkan dalam peti bernama tabuik;
4)    maambiak batang pisang yaitu mengambil batang pisang dan ditanamkan dekat pusara;
5)    maarak panja atau jari  yaitu mengarak panja yang berisi jari-jari palsu keliling kampung. Maarak panja merupakan pencerminan pemberitahuan kepada pengikut Husein bahwa jari-jari tangan Husein yang mati terbunuh telah ditemukan;
6)    maarak sorban yaitu membawa sorban berkeliling dn  menandakan bahwa Husein telah dipenggal; serta
7)    membuang tabuik  yaitu membawa tabuik ke pantai dan dibuang ke laut.

Selama sepuluh hari (1-10 Muharam), digelar pula berbagai penampilan seni budaya anak Nagari Pariaman, yakni Rabab Pariaman, Gandang Tassa, Randai, Lomba Baju Kuruang, Puisi dan Tari Minang. Selain itu digelar bazar dan pameran aneka produk usaha kecil dan menengah serta komoditi ekspor dari Pariaman. Ratusan ribu pengunjung berdatangan selama pesta "Tabuik", baik wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

Pembukaan Pesta Tabuik ditandai Pawai Taaruf oleh ribuan pelajar dan masyarakat yang mengintari kota. Setelah Pawai Taaruf, pesta pun dimulai. Selama pesta yang lamanya 10 hari ada pertunjukan-pertunjukan lain, seperti Pawai tasawuf, pengajian yang melibatkan ibu-ibu dan murid-murid Tempat Pengajian Al Quran (TPA) dan madrasah se-Pariaman, grup drum band, tari-tarian, musik gambus, dan bahkan atraksi debus khas Pariaman. Menyertai acara pembukaan pada hari pertama juga digelar Festival Anak Nagari (permainan tradisional Pariaman), festival Tabuik Lenong dan diakhir pawai Muharam mengelilingi Kota Pariaman. Malam harinya digelar hiburan musik gambus di Lapangan Merdeka yang dihadiri ribuan penonton. Hari kedua, pembuatan Tabuik dimulai dengan pembuatan kerangka dasar Tabuik dari bahan kayu, bambu, dan rotan. Malam harinya, digelar kesenian tradisional "Randai". Hari ketiga pengerjaan kerangka dasar Tabuik dilanjutkan, sedangkan di lapangan digelar kesenian organ tunggal menampilkan penyanyi-penyanyi lokal. Tanggal 4 Muharram selain melanjutkan pembuatan kerangka dasar Tabuik juga mulai dipersiapkan pembuatan kerangka Bouraq dan malam harinya warga Pariaman dihibur dengan film layar tancap di lapangan Merdeka.

Tabuik merupakan keranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, rotan dan bambu dengan tinggi mencapai 15 meter dan berat sekitar 500 kilogram. Bagian bawah dan atas Tabuik nantinya akan disatukan dengan cara bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala. Untuk menambah semangat para pengusung Tabuik akan diiringi dengan musik gendang tasa. Gendang tasa adalah sebutan bagi kelompok pemain gendang yang berjumlah tujuh orang. Mereka bertugas mengiringi acara penyatuan tabuik (tabuik naik pangkat). Gendang ini ada dua jenis. Jenis pertama disebut tasa didiang. Jenis ini dibuat dari tanah liat yang diolah sedemikian rupa, kemudian dikeringkan. Tasa didiang ini harus dipanaskan sebelum dimainkan. Jenis gendang kedua adalah yang terbuat dari plastik atau fiber dan dapat langsung dimainkan. Setelah penyatuan tabuik selesai, kedua tabuik yang merupakan personifikasi dari dua pasukan yang akan berperang dipajang berhadap-hadapan.

Menjelang sore penyatuan tabuik (tabuik naik pangkat), dikerumuni ratusan ribu orang, kedua tabuik itu diarak keliling Kota Pariaman. Masing-masing tabuik dibawa oleh delapan orang pria. Menjelang senja, kedua tabuik dipertemukan kembali di Pantai Gondoriah. Pertemuan kedua tabuik di Pantai Gondariah ini merupakan acara puncak dari upacara tabuik, karena tidak lama setelah itu keduanya akan diadukan (sebagaimana layaknya perang di Karbala). Menjelang matahari terbenam kedua tabuik dibuang ke laut yaitu Pantai Gondoriah. Prosesi pembuangan tabuik ke laut merupakan suatu bentuk kesepakatan masyarakat untuk membuang segenap sengketa dan perselisihan antar mereka. Selain itu, pembuangan tabuik juga melambangkan terbangnya buraq yang membawa jasad Husein ke Surga. Pantai Gondoriah merupakan tempat yang popular di kota Pariaman dan saat prosesi pembuangan itu dijubeli oleh ribuan manusia.

Akomodasi
Beberapa hotel yang dapat Anda jadikan referensi adalah.

Atami
Jl. A. Yani No. 6
0751-92314

Nan Tongga Beach Hotel
Jl. Tugu Perjuangan No. 45 Pariaman
0751-91666

Cindua Mato
Jl. Diponegoro No. 16
0751-91604

Puti Bungsu
Jl. Pahlawan 57
0751-93537

Surya
Jl. Alamsyah
0751-91976

Wisma Esra
Jl. Dr. Jamil No. 14
0751-91908

Kuliner
Berkunjung dan berwisata ke Kota Pariaman, belum lengkap rasanya kalau tak menyempatkan diri menikmati hidangan khas masakan warung ‘Nasi Sek’. Warung-warung ‘Nasi Sek’ sendiri sangat mudah sekali ditemui di Kota Pariaman. Lokasinya ada di sepanjang kawasan pantai Kota Pariaman. Mulai dari Pantai Kata, Pantai Cermin dan Pantai Gandoriah.

Puluhan warung berjejer rapi di sepanjang kawasan pantai ini. Pantai-pantai ini sendiri menjadi andalan daya tarik wisata Kota Pariaman. Dan ‘Nasi Sek’ kini menjelma menjadi salah satu ikon wisata Kota Pariaman. Nama merek dagang 'Nasi Sek' berawal dari istilah pemberian anak-anak sekolah. Nama ‘Nasi Sek’ dikenal sekitar tahun 80-an. Nama 'Nasi Sek' waktu itu, berarti nasi seratus kenyang. Istilah lain untuk tempat makan dengan harga murah meriah.

Di pantai tiram, tersedia masakan tradisional terutama yang berbahan baku ikan laut seperti gulai kepala ikan, gulai ikan khas tiram, keripik ikan (sala lauak), ikan gorang, sambal lado udang, sambal lado terung dan lain-lain. Juga tersedia sayuran segar sebagai makanan pendamping. Gulai kepala ikan Tiram terkenal karena aromanya yang khas sehingga enak di lidah. Dengan santan kelapa murni dipadu cabe rawit, gulai kepala ikan terasa sedikit pedas tetapi sangat menggugah selera anda. Meski terkenal sedikit pedas, Anda juga punya pilihan untuk gulai ikan yang tidak begitu pedas. Berbagai pilihan ini untuk memenuhi kebutuhan anda akan selera yang berbagai macam jenis. Selain gulai ikan,  juga tersedia goreng ikan ala Tiram sebagai pelengkap pilihan Anda. Aromanya juga sangat memukau selera. Jangan memandang warna cabenya yang merah dan terlihat pedas. Tetapi, coba cicipi dulu, anda akan tertarik, lagi dan lagi.

Anda juga dapat membeli oleh-oleh mulai dari souvenir hingga makanan khas seperti sala lauak  yaitu kudapan dari goreng tepung yang berbentuk bola-bola, juga ada ikan maco Pariaman yang terkenal gurih.

Transportasi
Kota Pariaman merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Apabila Anda datang dari luar Sumatera Barat maka berbagai penerbangan tertuju ke Padang kemudian dari kota Padang Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan bus, kereta, atau mobil sewaan ke Kota Pariaman.

Kota Pariaman berjarak sekitar 56 km dari kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Dari Kota Padang ke Pariaman ada kereta 4 kali sehari yang dapat mengantarkan Anda ke Pariaman.

Lokasi utama Pesta Tabuik biasanya berada di obyek wisata Pantai Gondoriah, sekitar 65 kilometer arah utara Kota Padang.