Senin, 10 November 2014

Pariaman and Its Tourism




Negara : Indonesia
Provinsi : West Sumatera
Kota : Pariaman
Suku Etnis : Minangkabau (89%)
Batak (4%)
Jawa (4%)
Lain-lain (3%)
Agama : Islam (99.4%)
Kristen (0.6%)
Bahasa : Minangkabau, Indonesia
Time Zone : WIB (UTC+7)
Website : www.pariamankota.go.id



GEOGRAFIS KOTA PARIAMAN

Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang landai terletak di pantai barat Sumatera dengan ketinggian antara 2 sampai dengan 35 meter diatas permukaan laut dengan luas daratan 73,36 km² dengan panjang pantai ± 12,7 km serta luas perairan laut 282,69 km² dengan 6 buah pulau-pulau kecil diantaranya Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak.
Kota Pariaman merupakan daerah yang beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh angin barat dan memiliki bulan kering yang sangat pendek. Curah hujan pertahun mencapai angka sekitar 4.055 mm (2006) dengan lama hari hujan 198 hari. Suhu rata-rata 25,34 °C dengan kelembaban udara rata-rata 85,25 dan kecepatan angin rata-rata 1,80 km/jam.
.
Utara
kecamatan V Koto Kampung Dalam , kabupaten Padang Pariaman
Selatan
kecamatan Nan Sabaris, kabupaten Padang Pariaman
Barat
Samudera Hindia
Timur
kecamatan VII Koto Sungai Sarik, kabupaten Padang Pariaman


SEJARAH KOTA PARIAMAN

Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia.
Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus. Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.
Sekitar tahun 1527 datang bangsa Perancis dibawah komando seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Dia mengirim dua buah kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua bersaudara ini tidak banyak ditemukan.
Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, dengan dua buah kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen, yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan menyusul setelahnya kapal-kapal Belanda yang lain. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596, dalam perjalanannya juga sempat melewati perairan Pariaman.
Pada tahun 1686, orang Pariaman ("Pryaman'" seperti yang tertulis dalam catatan W. Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris. Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan (entreport) Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa, pelabuhan itu semakin sepi karena salah satu penyebabnya dengan dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.
Secara historis, sebagai pusat pengembangan ajaran Islam yang tertua di pantai Barat Sumatera, masyarakat Pariaman sangat agamis, yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang memegang teguh ajaran Islam dan rasa tanggung jawab untuk mensyiarkan agama.
•Sebagai pusat penyebaran Islam di Minangkabau, Pariaman memiliki ulama terkenal seperti Syekh Burhanuddin, yang salah seorang gurunya bernama Khatib Sangko bermakam di Pulau Anso Duo, yang saat ini dikenal dengan "Kuburan Panjang". Beliau adalah pendiri perguruan tinggi Islam pertama di kawasan pantai barat Sumatera. Dari pengikut-pengikutnya, ajaran Islam berkembang pesat ke seluruh wilayah Minangkabau dan daerah tetangga. Bahkan, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, pelaksanaan pendidikan bernuansa agama Islam telah berkembang sehingga menjadikan kota ini sebagai kota tempat memperdalam ilmu agama bagi kebanyakan pemuda yang ada di wilayah Sumatera.
•Dengan lika liku perjuangan yang amat panjang menuju kota yang definitif, Kota Pariaman akhirnya resmi terbentuk sebagai Kota Otonom pada tanggal 2 Juli 2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Pariaman di Sumatera Barat.
•Sebelumnya, Kota Pariaman berstatus Kota Administratif (Kotif), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1986 dan menjadi bagian dari Kabupaten Padangpariaman se-kaligus Ibukota Kabupaten. Kotif Pariaman diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam dengan Walikota Administratif pertamanya Drs. Adlis Legan. Perjuangan menuju kota administratif inipun cukup berat. Namun berkat kegigihan dan upaya Bupati Padangpariaman saat itu, H. Anas Malik, Kotif Pariaman pun dapat diwujudkan.

Walikota dan Wakil Walikota Pariaman
(Sejak Tahun 1987 s/d sekarang)
•Drs. Martias Mahyuddin, M.Sc (1993 - 1998).
•Drs. Firdaus Amin (1998 - 2003).
•Drs. Adlis Legan (1987 - 1993).
•Drs. Sultani Wirman (Agustus s/d Oktober 2003).
•H. Nasri Nasar, SH dan Ir. Mahyuddin (2003 - 2008).
•Ir. Mahyuddin (22 Februari 2007 s/d 9 Oktober 2008).
•Drs. Mukhlis Rahman, MM dan Helmi Darlis, SH, S.pN (2008 - 2013).
•Drs. Mukhlis Rahman, MM dan Dr. Genius Umar, S.Sos, M.Si (2013-2018)
•Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Pariaman, Drs. H. Mukhlis Rahman, MM dan Helmi Darlis, SH, S.pN merupakan pasangan yang pertama dipilih langsung oleh masyarakat melalui Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) tanggal 28 Juli 2008. Keduanya diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pasangan ini resmi dilantik oleh Gubernur Sumatera Barat H. Gamawan Fauzi atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 oktober 2008, yang berlangsung dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Pariaman.


TRANSPORTASI KOTA

Kereta Api Sibinuang Kereta Api Sibinuang merupakan KA kelas ekonomi yang melayani koridor Padang - Pariaman. KA ini berada di bawah kendali Divisi Regional II Sumatera Barat. KA Sibinuang diberangkatkan dari Stasiun Padang setiap hari pada jam 06.00 WIB dan 13.30 WIB, sedangkan dari Stasiun Pariaman KA ini diberangkatkan pada pukul 08.30 dan 16.30. Tarif KA ini adalah flat Rp. 2.500,00 untuk jarak dekat maupun jauh.
Tranex atau Bus
Tranex atau Bus merupakan transportasi biasa yang digunakan masyarakat kota. Tranex ini melayani rute Padang – Pariaman, Pariaman-Padang. Dan juga banyak rute lainnya yang memudahkan masyarakat untuk bepergian ke daerah-daerah di Sumatera Barat. Tarif yang diberikan juga sesuai dengan jarak dan juga kenyamanan pelanggan dalam memilih tranex. Ada yang menggunakan AC atau Non AC. Tergantung kenyamanan dari pelanggan dalam memilih tranex tersebut.
Pantai Gandoriah terletak di puat kota Pariaman yang khas dengan pasir putih dan pantainya yang landai. Dengan deburan ombak yang tidak terlalu tinggi membuat pantai ini bisa digunakan untuk berenang.Di pantai ini juga tumbuh pohon pinus yang membuat tempat ini sangat bagus serta pemandangannya yang cantik. Pantai ini selalu dikunjungi masyarakat lokal maupun luar daerah terutama pada moment Tabuik dan hari raya. Di pantai ini juga banyak beragam wisata kuliner yang dapat kita temukan dipinggir pantai. Seperti, Nasi Sek, Nasi Gulai Kapalo Ikan, Goreng Udang, Sala Lauak, dan lain sebagainya. Di depan pantai gandoriah, kita bisa melihat Pulau Kasiak, Pulau Pandan, dan Pulau Angso Duo yang dapat kita seberangi dengan menggunakan speedboat.
Pulau Angso Duo
Pulau Angso Duo berda diseberang Pantai Gandoriah. Kita bisa menikmati keindahan alam yang dimiliki oleh Kota Pariaman ini. Dengan khas pasirnya yang putih dan airnya yang biru, banyak sekali pengunjung yang tidak bosan mengunjungi Pulau ini. Baik pengunjung lokal maupun mancanegara. Untuk menuju Pulau, disediakan speedboat atau perahu kayu yang letaknya tepat didepan pantai gandoriah.

WISATA ALAM


Pantai Gandoriah
Pantai Cermin
Pnatai Cermin terletak sekitar 1,5 km dari selatan kota Pariaman. Secara fisik, pantai ini cukup landai dan juga banyak pohon pinus dan pohon kelapa yang tumbuh disekitar pantai. Inilah ciri khas pantai pcermin yang membuat tempat ini sangat cantik untuk dikunjungi. Keindahan alam di tempat ini juga sangat menarik hati pengunjung karena pantai ini dijaga kebersihan dan keamanannya. Pasirnya yang berwarna kuning gading dan tidak berlumpur. Tempat ini juga banyak ditemukan restoran khas Minang yang menyediakan beragam menu ala Minang seperti Gulai Kepala Ikan dan goreng udang serta menu hidangan lainnya yang dapat dinikmati oleh pelnaggan. Pantai Kata
Nama Kata diambil dari dua tempat yang berbeda, yaitu Karan Aur dan Taluk. Pantai ini merupakan slah satu pantai yang indah di Pariaman yang juga khas dengan pasirnya yang putih dan tempatnya yang sejuk yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Pengunjung bisa menggunakan tradisional transportasi seperti angkot dan juga bisa menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju pantai kata.
Sebagai slah satu kegiatan tradisi Kota Pariaman, Tabuik juga merupakan slah satu kegiatan nasional yang diadakan setiap tahun oleh anak muda daerah pada bulan Muharram Tahun Hijriah. Banyak orang-orang yang mengunjungi pariaman untuk menikmati pesta tabuik ini, baik penduduk lokal maupun internasional. Penduduk sangat antusias sekali dengan pesta tabuik ini. Selama sepuluh hari dalam pembuatan tabuik sampai puncak kegiatan tabuik pada tanggal 10 Muharram. Banyak sekali kreatifitas anak daerah yang dipentaskan seperti indang, gamaik, qasidah, dabuih, randai, silek.

WISATA BUDAYA


Tabuik
Adapun beberapa prosesi yang diadakan selama sepuluh hari dalam pembuatan tabuik yaitu :
1. Membuat Daraga
2. Mengambil Tanah
3. Memotong Batang Pisang
4. Maatam
5. Mamanjek Panja
6. Mamakai Saroban
7. Manaiakan Tingkek
8. Hoyak Tabuik
9. Melempar tabuik ke laut

Guci Badano

WISATA SEJARAH

Terletak di Desa Sungai Rotan. Air yang ada dalam Guci ini dipercaya oleh masyarakat sebagai obat. Air ini biasanya digunakan oleh masyarakat dalam Upacara Turun Mandi.
Meriam Tua
Rumah Panggung di Jl. SudirmanRumah tua tradisional Pariaman yang juga sering disebut rumah gadang memiliki tiang sebanyak 20 buah. Oleh sebab itu rumah ini disebut juga rumah tonggak 20. Topologi rumah gadang ini adalah rumah panggung atau kolong dan memiliki tiang-tiang tinggi. Hal ini disesuaikan dengan iklim dan kondisi daerah serta kebiasaan yang turun temurun. Suasana di dalam rumah ini sangat sejuk dan segar karena seluruhnya terbuat dari kayu dan memiliki jendela serta ventilasi ornamental. Saat ini tidak banyak lagi rumah gadang ini dijumpai. Karena pengaruh budaya dan zaman, tidak banyak lagi masyarakat yang membangun rumah seperti rumah gadang, berhubung pemeliharaan dan perawatannya yang cukup tinggi.
Rumah Panggung Lama Pariaman
Bukti peninggalan sejarah terdapat di Jalan Diponegoro Desa Kp. Pondok dekat pusat Kota Pariaman yakni sebuah meriam kuno. Meriam ini terletak di halaman rumah gadang milik keluarga. Meriam ini selalu dibersihkan dan dibunyikan sebagai pertanda mulainya berpuasa atau hari-hari penting lainnya.
Monumen Angkatan laut
Pariaman pada kemerdekaan terkenal karena merupakan basis angkatan laut yang kuat yang membuat pasukan Belanda sulit memasuki wilayah Pariaman.Di lokasi yang disebut dengan benteng sekarang, terletak di pusat Kota Pariaman, tepatnya di Jalan Tugu Perjuangan 45, terletak sebuah bekas benteng perlawanan rakyat Pariaman dalam melawan agresi Belanda. Di sini gugur sebanyak 36 anggota ALRI dan 4 orang selamat meloloskan diri. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Januari 1949. ALRI saat itu dipimpin oleh Letnan I Wagimin, mantan anggota Kaygun.
Mesjid Pinago
Mesjid Pinago yang dibangun tahun 1894 ini terletak di Kuraitaji. Satu hal yang unik di dalam mesjid ini adalah terdapat sebuah batu yang disebut dengan batu sandi macu. Benar atau tidak orang bilang bahwa batu itu membesar sesuai dengan umurnya. Tidak diketahui apa fungsi batu itu. Tetapi masyarakat setempat tetap menjaganya.
Mesjid Raya Pariaman
Mesjid ini mulai dibangun pada tanggal 1 Muharram 1300 H (1879 M) yang diprakarsai oleh Syekh Muhammad Jamil, seorang ulama yang termasyhur pada masa itu. Mesjid ini merupakan mesjid batu pertama di Pariaman dan dibangun dengan kekuasaan dan kekuatan anak nagari pasar Pariaman sendiri. Mesjid ini berdiri berkat kepemimpinan S.M. Jamil dalam membina persatuan dan kesepakatan anak nagari pada masa itu. Dari mesjid ini syiarnya agama Islam ke seluruh penjuru negeri.

WISATA KULINER


Setiap daerah tentunya memiliki daya tarik tersendiri. Memiliki budaya yang berbeda. Bahasa, dialeg dan pandangan hidup yang tak sama. Namun keanekaragaman inilah yang membuat kita merasa saling membutuhkan. Tak luput pula kekhasan kuliner yang ada pada tiap-tiap daerah. Pariaman tampil dengan sala lauaknya. Sudah tidak asing lagi bagi kita makanan khas orang Pariaman ini. Sala merupakan bahasa Minang yang berarti goreng. Sedang lauak berarti ikan. Apa sala lauak itu sama dengan goreng ikan? Eits, hati-hati! Tentu bukan, karena yang akan diberikan bukan sala lauak lagi tetapi ikan yang digoreng. Lalu sala lauak itu seperti apa?
Sala lauak merupakan gorengan sebesar bola pimpong berwarna kuning kunyit. Tersusun atas tepung beras, cabe, kunyit, bawang-bawangan, garam, serta ikan asin. Rasa ikan asin yang terdapat dalam gumpalan tepung yang dibumbui inilah yang membuat 'sala' itu bernama Sala Lauak. Tak hanya sala lauak yang menjadi makanan khas Pariaman, tetapi masih banyak makanan lainnya. Seperti goreng kepiting, Nasi Sek, ketupat gulai paku, kacimuih, lamang sipuluik, onde-onde, lompong sagu, dan jenis makanan lainnya.
Makanan khas ini akan dengan sangat mudah kita temukan di Pariaman. Di sekitar Pantai Gandoriah saja, kita dapat menemui makanan-makanan ini. anda penasaran dengan sala lauak Rang Piaman? Yuk coba! (*)

WELCOME TO PARIAMAN!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar